45+ Puisi Pahlawan, Perjuangan, Pendek, 10 November, Gugur Bunga, Tak Dikenal, Dst

Puisi pahlawan. Untuk mengenang jasa dan peninggalan perjuangan para pahlawan, berikut ini disajikan kumpulan puisi perjuangan dan puisi pahlawan sebagai apresiasi untuk jiwa dan raga para pahlawan yang diberikan dengan berjuang sehingga bangsa indonesia boleh menikmati kemerdekaan dan Kemandirian. Yuk, silahkan disimak!

Puisi Pahlawan Dan Perjuangan Terbaik

Jiwa jiwa yang gugur

Puisi pahlawan karya: Rayhandi

Jiwa jiwa yang gugur
Jasad jasad berserakan di bumi indonesia
Darah menjadi biru hitam jeritan
Rasa takut menyatu dengan hati.

Jiwa jiwa yang gugur
Kini mereka suci di janah
Menjadi tamu allah
Mereka tersenyum di sana
Tersenyum untuk indonesia yang semakin dan menderita.

Jiwa jiwa yang gugur
Tidak tahukah kau jumlah roh yang terpisah dengan jasad?
Beratus bahkan beribu jiwa menjadi almarhum.

Jiwa jiwa yang gugur
Mereka gugur untuk satu nama
Mereka berkorban untuk satu nama
Mereka menangis untuk satu nama
Indonesia….indonesia!

Puisi Pahlawan Dan Perjuangan

Bangkit

Puisi Perjuangan Oleh Selvi Deliana

Berhenti menatap elang yang terbang

Lihat bintang yang terang
Menghiasi langit begitu riang
Berkelap kelip sangat girang

Andai seribu cahaya ku pegang

Menerangi jiwa yang tegang
Menyinari diri yang malang
Menyingkirkan bodoh yang garang

Namun semangat tak meregang

Akan ku cari hidup yang gemilang
Untuk bangkit dan berjuang
Untuk sukses yang tak terbayang

read more: Puisi Alam

Kepergian Pahlawanku

Senja yang pilu
membuat hari kian membiru
Langit tanpak keruh,
mengantar kepergianmu.. pahlawanku

Gerimis jatuh membasahi pucuk sunyi,
melagukan nada-nada lara hati
Saat doa-doa ikut tertanam,
bersama bayangmu yang kian tenggelam

Kaulah pahlawan hidupku
meninggalkan berjuta jejak
dalam rentang waktuku
mengukir berjuta cinta
dalam lembar hidupku.

Kepergianmu ini,
membuatku bagai kota mati
Namun, aku mengerti
bahwa engkau… Ibu
takkan pernah layu dalam kalbuku
dalam setiap kenangan, kulantunkan doaku
tenang dan bahagiamu
kembali kepada-Nya.

Pengorbanan

Mengucur deras keringat

Membasahi tubuh yang terikat
Membawa angan jauh entah kemana
Bagaikan pungguk merindukan bulan
Jiwa ini terpuruk dalam kesedihan

Pagi yang menjadi malam

Bulan yang menjadi tahun
Sekian lama telah menanti
Dirinya tak jua lepas

Andai aku sang Ksatria

Aku pasti menyelamatkanya
Namun semua hanya mimpi
Dirinyalah yang harus berusaha
Untuk membawa pergi dari kegelapan abadi

Kusuma Bangsa

Penjajah mengoyak kedamaian negeri ini
Mereka menindas
Mereka memaksa
Mereka merampas

Perjuangan bangkit melawan
Maju ke medan laga
Memanggul senjata
Menyerukan kebenaran

Perjuangan itu tidak sia-sia
meskipun mereka harus dibayar darah dan nyawa
Indonesia merebut kembali kedaulatannya.

Kita bisa menikmati
indahnya negeri ini
berkat kegigihan dan keberanian
para pejuang sejati
merekalah kusuma bangsa ini

Lanjutkan semangatnya
Kobarkan kegigihannya
untuk membangun Indonesia tercinta

Kartini

Saat wanita ditabukan oleh belajar,
suaramu lembut menentang
batinmu lantang menyerang

Sekuat tenaga kau nyalakan harap
bagai gemerisik angin dalam sneyap
rebuk hak untuk kaum wanita
perjuangan masa depan untuk kaum wanita

Kartini…

Saat kini jasamu tlah membahana…
namamu tak lagi lantang disebutkan
usahamu tak lagi ramai dibicarakan

Kau kian terlupakan…
bagai kota yang tlah lama ditinggalkan.

Pupus Raga Hilang Nyawa

Napak tilas para pahlawan bangsa

Berkibar dalam syair sang saka
Berkobar dalam puisi indonesia
Untuk meraih Cita-cita merdeka

Napak tilas anak bangsa

Bersatu dalam semangat jiwa
Bergema di jagat nusantara
Untuk meraih prestasi dan karya

Merdeka…

Kata yang penuh dengan makna
Bertahta dalam raga pejuang bangsa
Bermandikan darah dan air mata

Merdeka…

Perjuangan tanpa pamrih untuk republik tercinta
Menggelora di garis khatulistiwa
Memberi kejayaan bangsa sepanjang masa

Merdeka…

Harta yang tak ternilai harganya
Menjadi pemicu pemimpin bangsa
Untuk tampil di Era dunia

Puisi Pahlawan 10 November

Puisi Pahlawan 10 november

Mengenang Jasa Pahlawanku

Pahlawanku …
Tiada peristiwa seindah kisah seluruh perjuangan
Tiada kata seindah kata pengucapan proklamasi
Terbebaskan hingga sang merah putih terkibarkan
Terdengar lantunan merdu irama lagu Indonesia Raya

Pahlawanku …
Dunia telah mencatat harum namamu di dalam buku ilmu
Engkau telah berguguran atas nama demi persatuan
Menyatukan permasalahan yang menjadi perdebatan
Meraih kemenangan menggapai kedamaian dunia

Pahlawanku …
Peninggalan berharga tidak pernah terlupakan walaupun usang berdebu
Kerja keras meraih keadilan demi manusia
Terseok hingga putus urat nadi tak bersalah
hingga tertinggalkan kenangan yang sangat berharga

Pahlawanku …
Perjuangan itu kini teralih di kedua tangan kami
Menjaga keutuhan negeri yang akan kaya dengan sumber daya
Menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia
Dalam naungan indah kata dan falsafah pancasila
Jangan biarkan kami merusak keindahan negeri

Pahlawanku …
Perjuanganmu telah usai berabad yang lalu
Tepuk pundak kami untuk sekuat engkau berani
Tuntun kuasa kami untuk mengembangkan
Potensi diri dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pemuda Hebat Pembangun Peradaban

Darimu pahlawan kami belajar banyak pengalaman
Sejarah-sejarah yang penuh tantangan itu sangat memacu untuk berjuang
Mengatur strategi setiap tapak kaki melangkah pergi
Mengorbankan segala harta dan jiwa bahkan nyawa

Bumi yang banyak kekayaan ini sudah tidak aman
Saling merebutkan dan saling menembak lempar permasalahan
Perdamaian seakan terhapuskan oleh kepuasan
Dijunjung tinggi persatuan yang sudah tidak bisa disatukan

Tempat ini menangis rindu akan pembelaan
Pembelaan yang tidak hanya memusnahkan lawan permainan
Tapi pembelaan yang tulus akan pentingnya kebebasan
Untuk menciptakan dan memulihkan keadaan

Pemuda hebat kini siap menandingi penjajah itu
Tidak akan kami biarkan Indonesia terkoyak sedikitpun
Tanah nenek moyang menjerit tidak rela jika kau rampas
Paksaan lawan tidak menyurutkan pembelaan kami

Keutuhan bangsa ini adalah tanggung jawab kami
Wasiat pahlawan yang telah gugur duluan
Tapak kaki dan tonggak perjuangan akan kami teruskan
Rela berkorban untuk menjaga keutuhan
Pemuda hebat hidup membangun peradaban

Gugur di Jalan Pembelaan

Pahlawanku …
Derai tangis air mata mengenang tragedi yang keras dan kejam
Nyawa berguguran dimuka bumi pertiwi menjadi saksi
Pembelaan demi negeri untuk meraih kebebasan diri
Darah juang menjadi balasan perang perlawanan sejati

Gugup dan genting keadaan panas membakar semangat
Penjajah datang rombongan dari negeri sebrang bergandengan
Bersenjata runcing nan tajam siap menusuk raga menentang
Kapal militer menepi pada lautan berair api menyala

Begitu perih dan berat pertempuran itu
Melenyapkan nyawa tertusuk bambu runcing bermata tajam
Tertembak peluru tentara bersenjata hingga menembus tulang baja
Jasadmu terkapar tak berdaya penuh peluh luka

Darah merah mengalir bersama sisa-sisa perjuangan mulia
Matamu berbinar menggambarkan keikhlasan nyawa yang hilang
Tubuhmu terbujur kaku dan napas sesak terputus
Raut wajah tersenyum karena mati atas dasar pembelaan

Kini Indonesia telah merdeka berkat kerja kerasmu
Kisah itu menjadi sejarah terkenang anak bangsa
Semoga engkau yang telah berguguran bertempat bahagia di sana
Hingga jasamu terbalaskan dengan nikmat surga-Nya

Bebaskan Dari Senjata Tanah Air Tercinta

Perjuangan pahlawan terkenang selalu dalam ingatan
Tanah air tercinta terbebaskan dari sengsara ketakutan
Anak bangsa tersenyum bahagia saat merdeka jaya
Terhirup udara segar terhindar dari musuh yang bersenjata

Banyak bukti kerja keras perlawanan itu
Kini hanya menjadi sejarah yang tersimpan dalam buku ilmu
Dikenang sepanjang masa oleh para penjuru penghuni dunia
Tidak akan pernah terlupakan jasa yang sungguh berharga

Karna berkat kegigihanmu Indonesia berdiri kokoh dan aman
Bebas dari ancaman dan serangan yang merenggut maut
Bambu runcing menjadi tongkat kokohsenjata berharga
Pendobrak pembela bangunnyakata merdeka bangsa

Darah juang itu menghantarkan pada dunia yang sesungguhnya
Tanpamu pahlawanmungkin hari ini tidak akan secerah ini
Penindasan di negeri akan terus terjadi hingga menyayat nadi
Kejamnya hidup sendiri seperti kerja rodi yang terbukti

Prasasti-prasasti itu kini menjadi bukti peninggalan
Terngiang dipikiran alangkah sulitnya berjuang
Tidak bisa santai apa lagi berdiam diri dan terpatri
Indah sejarahmu terlukis cantik pada anak negeri

Semangat Pahlawan Perjuangan

Begitu harum saat mendengar panggilan namamu
Pejuang kemerdekaan yang tidak pernah letih menghadapi penjajah
Segala kemampuan terkorbankan sekalipun nyawa rela dipertaruhkan
Ikhlas terrasa semua dilakukan demi tanah air tercinta

Pahlawanku ….
Engkau telah menjadi orang yang bersejarah dihadapan kenyataan
Perjuangan yang tidak akan pernah terlupakan sampai menutup mata
Berani menghadapi musuh yang mengobar panasnya api membara
Tak gentar takut mati dan terus maju sergap menghadang

Beribu-ribu tawanan tentara perang menyerbu kawasan
Alam taklagi aman akan cepat terkecohkan dengan keadaan
Langkah kaki segera diperkencang selamatkan dari ancaman
Raut wajah tegang dan seram mata enggan terpejam sedetikpun

Mengatur lincah strategi atau mati di tangan lawan
Berdiam diri atau sembunyi dibalik kuatnya tameng besi
Hilang sejenak dari wajah permukaan perang teruji
Napas tersesak lari kencang menyusuri hutan yang berjeruji

Pahlawanku …
Perjuangan itu sangat mengetuk pintu hati manusia
Nyawa melayang diujung perlawanan rela kau korbankan
Demi tanah air hingga derastumpah darah mengalir
Gugurmu di jalan perang menjadi saksi sulitnya perjuangan

Puisi Pahlawan Karya Chairil Anwar

Puisi Pahlawan Karya Chairil Anwar

Prajurit Jaga Malam

Puisi Perjuangan Chairil Anwar

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

1948

Yang Terhempas Dan Yang Putus

Puisi Pahlawan Chairil Anwar

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

Aku

Puisi Pahlawan Oleh : Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Yidak juga kau

Tak perlu sedu-sedan itu
Aku ini binatang jalan
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Malam

oleh : Chairil Anwar

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
– jagal tidak dikenal ? –
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

baca juga: Puisi Malam

Diponegoro

Puisi Pahlawan Oleh : Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

Karawang Bekasi

Puisi Pahlawan Oleh : Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Puisi Pahlawan Tak Dikenal

Pahlawan Tak Dikenal

Puisi Perjuangan karya Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda.

Puisi Pahlawan Gugur Bunga

Gugur Bunga

Terkenang kembali lukisan sejarah
Ber cat merah dan putih
Pemberani dan suci
Mereka pahlawan revolusi
Patriot pembela bangsa
Setia nan sejati…..

Pahlawanku, engkau bagaikan
Bunga yang mekar ditaman surgawi
Indah di basahi embun pagi
Mengharumkan bumi pertiwi
Menyejukan jiwa di hati

Lalu….
Sejarah bercerita kembali
Tentang kisah pilu manyayat hati
Membuat sesak dada ini

Tergeletak, bertumpuk badan
Tak bernyawa
Bermandikan darah penuh luka
Bagaikan daging yang tiada artinya

Wahai pemberontak……
Tidakkah kalian punya hati
Menyingkirkan para perwira
Hanya karna tujuan yang berbeda
Dibuatakan oleh nafsu semata
Kini gugur sudah pahlawan indonesia
Di khianati musuh dalam bangsa

Biarlah…
Luka lama menjadi pelajaran
Sekarang….
Indonesia tetaplah indonesia pusaka
Kuat karna perbedaan
Jaya karna satu tujuan
Berpegang tangan untuk
Meraih masa depan….

Puisi Pahlawan Dari Sukarno

Puisi Pahlawan Karya Sukarno

Sinar Itu Dekat

Jikalau kita insyaf
bahwa kekuatan hidup itu
letaknya tidak dalam menerima
tetapi dalam memberi

Jikalau kita semua insyaf
bahwa dalam percerai-beraian itu
letaknya benih perbudakan kita;
Jikalau kita semua insyaf
bahwa permusuhan itulah yang menjadi
asal kita punya “via dolorosa”

Jikalau kita insyaf
bahwa roch rakyat kita masih penuh
kekuatan untuk menjunjung diri
menuju Sinar yang satu
yang berada di tengah-tengah kegelapan gulita
yang mengelilingi kita ini
pastilah persatuan itu terjadi
dan pastilah Sinar itu tercapai juga
Sebab Sinar itu dekat

baca juga: Puisi Lucu

Semangkuk Kecil Nasi Sehari

Kita negara-negara berpolitik bebas di dunia
yang mengakui dan menerima kenyataan
adanya bangsa-bangsa yang baru bangkit
mempunyai kewajiban yang mengikat untuk
memperoleh pengertian dan rakyat-rakyat di negara lain
untuk mengatakan terus terang kepada mereka
bahwa mereka tidak dapat terus hidup
di atas berjuta-juta rakyat yang miskin

Masyarakat-masyarakatnya mereka mewah berlimpah
dibangun di atas keringat dan susah payah
dan air mata dari jutaan manusia
yang melalui malam senggang mereka tidak
dengan mata melekat pada pesawat televisi
tapi dalam kegelapan yang ditembus oleh nyala lilin
yang sehari-harinya bukan dirundung
oleh kepunyaan tetangga mereka
tetapi oleh keinginan untuk memberi kepada
anak-anak mereka semangkuk kecil nasi sehari

Dimakan Api Unggun

Saya merasa
diri saya sebagai
sepotong kayu
dalam satu gundukan kayu api unggun

sepotong dari pada ratusan
atau ribuan kayu di dalam api unggun besar

saya menyumbangkan sedikit
kepada nyala api unggun itu

tetapi sebaliknya
saya dimakan oleh api unggun itu!
Dimakan apinya api unggun

Sejarahlah yang Akan Membersihkan Namaku

Dengan setiap rambut di tubuhku
aku hanya memikirkan tanah airku

Dan tidak ada gunanya bagiku
melepaskan beban dari dalam hatiku
kepada setiap pemuda yang datang kemari
aku telah mengorbankan untuk tanah ini

Tidak menjadi soal bagiku
apakah orang mencapku kolaborator
Aku tidak perlu membuktikan kepadanya
atau kepada dunia, apa yang aku kerjakan

Halaman-halaman dari revolusi Indonesia
akan ditulis dengan darah Sukarno
Sejarahlah yang akan membersihkan namaku

Menggerakkan Tenaganya

Diberi hak-hak atau tidak diberi hak
Diberi pegangan atau tidak diberi pegangan
Diberi penguat atau tidak diberi penguat
Tiap-tiap makhluk
Tiap-tiap umat
Tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak
Pasti akhirnya bangkit
Pasti akhirnya bangun
Pasti akhirnya menggerakkan tenaganya
Kalau ia sudah terlalu sekali merasakan
celakanya diri oleh suatu daya angkara murka!
Jangan lagi manusia
Jangan lagi bangsa
Walau cacing pun tentu berkeluget-keluget
kalau merasa sakit!

Kami Bukan Bangsa yang Pandir

Ada sebabnya aku mengadakan perlawatan ini
aku ingin agar Indonesia dikenal orang
Aku ingin memperlihatkan kepada dunia
bagaimana rupa orang Indonesia

Aku ingin menyampaikan kepada dunia
bahwa kami bukan “Bangsa yang Pandir”
seperti orang Belanda berulang-ulang
mengatakan kepada kami

Bahwa kami bukan lagi
“Inlander goblok hanya baik untuk diludahi”
seperti Belanda mengatakan kepada kami berkali-kali

Bahwa kami bukan lagi
penduduk kelas kambing yang berjalan
menyuruk-nyuruk dengan memakai sarung dan ikat kepala
merangkak-rangkak seperti yang dikehendaki
oleh majikan-majikan kolonial di masa silam

Puisi Pahlawan 4 Bait

Kebencian Mendalam

Kisah tentang para pejuang yang mati
Kisah para pejuang yang melawan
Membekas di dalam hati
Membangkitkan semangat juang

Cinta pada negeri
Itulah landasannya
Kau sebagai pahlawan yang terbuang
Di negeri ini aku menyapamu

Kau terbuang di pengasingan
Seorang pejuang yang terasingkan
Dalam derunya kemerdekaan
Saudaraku

Aku menyapa penuh cinta
Aku menyapamu penuh dekapan
Aku menyapamu penuh semangat
Semangat juang yang tak pernah usai

Memori Perang

Para serdadau di garis terdepan
Membawa bambu runcing
Berlari menerjang peluru
Mencoba merebut harapan

Ketika perang mulai berdendang
Alunan langkah para pejuang
Ledakan pun menjadi biasa
Demi kemerdekaan bangsa dan negara

Sepenggal kisah dan memori
Kisah-kisah perjuangan tak ada ampun
Kisah-kisah heroik tiada naas
Patriot yang harus didengar

Lisan-lisan kini menjadi veteran
Terbakarlah sudah semangat juangmu
Legenda-legenda yang bukan mitos
Ketika penjajah menginjak-injak

Matamu Tajam

Kedua matamu tetap fokus satu tujuan
Ke arah musuhmu
Entah kepala atau dada
Kesigapanmu mengarahkan pistolmu

Namun, granat-granat telah menghampiri
Tepat di depan matamu
Kau terguncang dengan hebat
Kau tercabik dan berlumurah darah

Wajahmu hampir tak diketahui
Di saat-saat terakhir kau berkata,
“merdeka!”
Pilu dalam masa perang

Kegigihanmu bercampur darah
Peluru mendesing di telingamu
Jiwa-jiwa terhentak lemah
Keteganganpun terjadi

Merdeka!

Aku meniti jalan
Penuh duri nan tajam
Menyusun gurun-gurun
Yang kering nan kerontang

Di mana aku menemukan
Sosok kau sebagai pahlawan
Untuk kemerdekaan
Untuk bangsa

Suara derap langkah
Dari sepatu-sepatu besar
Bersama di medan perang
Bergegas maju di depan

Sepucuk pistol tertembak
Ke arah musuh sebagai penjajah
Hingga mereka tumbang tak berdaya
Hingga mereka tak dapat lagi berlagak

Rindu Pertiwi

Darahmu menjadi air bagi tanah kami
Darahmu menjadi energi
Menumbuhkan para tunas-tunas baru
Generasi-generasi baru

Saksikanlah tanah juangmu kini
Kau akan terima keluh kesah dari pertiwi
Menantimu kembali
Sebagai pahlawan sejati

Di mana lagi keberanian?
Di mana lagi teriak semangat?
Di mana lagi sosokmu?
Hai pahlawanku

Ribuan hari berlalu
Jutaan hari terhitung
Namun tak kutemui
Sosok sepertimu

Bayang-Bayang Pejuang

Bayang-bayang para pejuang bangsa
Wanginya harum di tengah deretan para pujangga
Kisahnya indah penuh perjuangan
Sang pahlawan bangsa dan negara

Merelakan nyawa di medan pertempuran
Rela dadanya tertembus peluru
Meskipun tergeletak di tanah penuh darah
Namun ia tetap hidup di dalam jiwa kita

Bayang-bayang para pejuang bangsa
Kita menapak menembus era
Dan kau saksikan kami di alam surga sana
Kita bersatu untuk mempertahankan

Kau ambil seragam lusuhmu
Kau kenakan dengan rapi
Meski kau tak dikenal
Namun juangmu masih terasa

Puisi Pahlawan 3 Bait

Bambu Runcing yang Terhunus

Bambu runcing tegak menantang kedzaliman
Menantang meriam besar penuh kesombongan
Keangkuhan akan kekuatan
Lagi-lagi mencoba merampas sebuah kebebasan

Bambu runcing terhunus menagih darah
Darah siapakah gerangan yang akan memuaskannya
Pucuk tajam itu sangat ingin menumpas
Segala kedzaliman dan angkara murka para penjajah

Bambu runcing dengan tegak menantang kulit putih
Bersenjatakan bedil dan meriam besar
Namun ternyata mampu terkalahkan oleh sebilah bambu
Yang terlahir dari semangat keadilan dan persatuan

Antara Keadilan dan Ketidakadilan

Desingan peluru saling beradu
Dentuman suara meriam saling menyahut
Ledakan dari kejauhan menggelegar keras
Menandakan adanya pertarungan dahsyat

Pertarungan dahsyat yang kini terjadi
Antara keadilan dan ketidakadilan
Siapakah yang menjadi pemenangnya
Tak ada yang tahu hingga hasil pertarungan diketahui

Para pejuang kemerdekaan serta penjajah bangsa menjadi aktor utamanya
Sebuah bendera berkibar dengan gagahnya sebagai pertanda kemenagan
Bendera dengan warna merah dan putih
Pertanda kemenangan bangsa Indonesia ini

Pahlawan dari Masa Lalu

Kulihat dari kejauhan
Kibaran panji-panji merah putih menyapa
Seolah mengajak diri untuk ikut berjuang
Namun apalah daya raga tak mengizinkan

Teringat akan sebuah pengalaman masa lalu
Pada saat diri ini berlari ke garis depan
Mengangkat senjata menghardik lawan
Hingga kaki tertembak peluru tajam

Peperangan di masa lalu
Kini membuatku duduk lemah tak berdaya
Menyaksikan rekan sedang berjuang
Tersisa sudah rasa bangga dalam ketidakberdayaan

Pahlawan yang Terbuang

Dari negeri seberang aku manyapamu
Di tanah pengasingan aku terbuang
Seorang pejuang perang yang terasingkan
Dalam deru debu peperangan kemerdekaan

Duhai saudaraku sebangsa di tanah air
Aku menyapamu dalam dekapan cinta
Serta rasa bangga dan semangat perjuangan
Meski kini daku berada di pengasingan

Mungkin saja akhir hidupku hanyalah berada pada hitungan detik saja
Mati membusuk di pengasingan ini
Kutitipkan semangat juang ini
Kepada mu kawan di medan peran

Sepenggal Kisah Pejuang

Saat kisah-kisah perjuangan
Serta cerita heroik penuh patrotis diperdengarkan
Oleh lisan-lisan para veteran perang
Saat itu pula hati terbakar seolah ingin ikut berjuang

Ketika legenda-legenda tentang penjajah
Serta kekejaman dalam penjajahan diperdengarkan
Oleh lisan-lisan para veteran perang
Saat itu pula hati membenci dengan segala perasaan tak rela

Cerita tentang para pejuang
Melawan para penjajah
Membekas di hati dan membangkitkan rasa di hati
Akan kecintaan kepada negeri

Satu Kata Merdeka

Suara derap langkah sepatu besar terdengar hingga seantaro medan perang
Kau berbegas maju menghardik musuh dengan garang
Sepucuk pistol kau bidikkan ke arah lawan
Hingga musuh tumbang tak mampu lagi bertolak pinggang

Kau fokuskan kedua matamu pada musuh
Dengan sigap kau arahkan lagi pistolmu ke arah tentara penjajah
Namun sayang, desiran granat meledak dahsyat
tepat di depan langkahmu terakhirmu

sang pahlawan terguncang degan dahsyat
tubuh tercabik berlumuran darah merah
wajahmu hampir-hampir tak lagi dapat dikenali
disaat terakhirmu kau bisikkan satu kata terindah yakni “merdeka”

Puisi Pahlawan 2 Bait

NEGERI KITA

Karya: NN

Kemerdekaan negeri ini bukanlah hadiah
Kau raih dengan darahmu yang tlah tumpah
Merah Putih itu kini telah berdiri gagah
Tanpa seorangpun berani mengubah

Pahlawanku, kan ku jaga negeri kita
Ku curahkan jiwa dan raga tuk Indonesia tercinta
Ku bangun dan ku isi kemerdekaan ini
Dengan penuh upaya meski tak seberapa

Puisi Pahlawanku

Demi negeri
Kau korbankan jiwa
Demi bangsa
Kau taruhkan nyawa

Maut menghadangmu
Di medan perang
Kau pun beranggapan
Itu hanya hiburan

Bulatkan Tekad

Tegarlah seperti batu karang
Keraskan segala usaha
Jangan hanya suara kita
Karena hasil tak menghianati usaha kita

Kita berjalan bersama asa
Untuk negeri ini setiap hari
Aku tak ingin lagi
Melihat pertiwi menangis

Kobarkan Semangat

Selama matahari masih bersinar
Aku tak pernah berhenti
Walau itu hanya sebentar
Untuk melindungi dan mempertahankan

Meskipun aku akan bersatu dengan tanah airku
Bersama darah dan keringatku
Mari bersatu
Para penerusku

Tanah Darahku Darahmu

Aku tak ingin melihat bangsaku tersungkur
Kalah oleh waktu
Aku tak ingin melihat bangsaku tenggelam
Oleh kehancuran dari penjajah

Tekad setinggi langit
Untuk tanah air ini
Mereka berkorban
Percaya diri penjajah pun mulai menyusut

Tentang Pahlawan

Dadamu penuh dengan wajah
Karna kau pedulikan mereka
Mendahulukan keselematan mereka
Hingga kau rela berkorban

Kau pahlawan sebenarnya
Yang selalu berkorban demi kita
Selalu berjuang
Tanpa alasan dan balasan

Korban Pahlawan

Kau memiliki yang tak kumiliki
Kau gunakan untuk hidupmu
Kau gunakan untuk hidup kita
Waktumu untuk kami

Kehidupanmu tak kau pedulikan
Pikiranmu, tenagamu, perhatianmu untuk mereka
Setiamu, tawamu, pengorbananmu
Hanya untuk senyum mereka

Demikianlah kumpulan puisi pahlawan terbaik dan puisi perjuangan kemerdekaan yang bisa dibagikan kali ini. Semoga tulisan ini memberikan inspirasi yang mendalam untuk anda agar bisa menghargai perjuangan para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan dengan kegiatan positif.